Dyah
Sudah lama sekali tidak menulis di sini, padahal keinginan tuk berbagi begitu banyak.Minggu lalu, ada dua aktivitas jalan-jalan yang banyak menyita waktu: Jalan-jalan di atas sungai Alster yang beku dan jalan-jalan baca tulisan-tulisan di Kompasiana yang banyak mengupas masalah Bule, Non bule, Nasionalisme, rasa cinta tanah air ... banyak diskusi panas di dalamnya.Ada tulisan heboh yang provokatif, kalau kubilang sih bisa dikategorikan sebagai tulisan dengan bumbu rasisme. Pasalnya, penulisnya, mengupas tentang wanita-wanita yang menikah dengan "bule" dan menyamaratakan wanita tersebut sebagai wanita murahan, seronok, yang dandanannya tebal ... dan penulis tersebut bersyukur tidak ditaksir "Mr. Bule" karena menurutnya selera kaum "bule" sangat rendah dan hanya suka wanita yang bertampang babu ...Serunya lagi, banyak komentar-komentar atas tulisan heboh tersebut, seperti perang ... yang pedas tentunya dari kaum wanita yang bersuamikan "bule", tapi banyak juga kok yang se-ide- atau mendukung penulis ... dengan komentar karena banyak yang melihat "Bule" menggandeng wanita di Blok M, dan yang lainnya, banyak yang menulis komentar pengalaman pribadi yang tidak ada surveynya. Penulis banyak sekali menghubungkan kawin campur dan tidak cinta tanah air ... salah satu komentarnya penulis malah bilang, kalau tulisannya itu dibuat karena dia cinta Indonesia, kasihan sekali tanah air kita yang menderita... katanya. Apa hubungannya ya?Perang komentar yang memanas, akhirnya tulisan itu hilang dari peredaran. jadi sayang... tak ada bukti... tidak bisa dibaca hal-hal itu...Tapi ada bukti tulisan-tulisan kompasianer lain berkaitan dengan tema tersebut... tema "bule" dan "Non Bule"... Yang pasti saat membaca tulisan tersebut tentunya ada campur baur perasaan:*Kasihan ... orang intelektual, pernah sekolah dan tinggal di LN, punya job bagus ... kok picik amat ya? Di mana mata dan hatinya? kasihan juga tertuju pada keluarga, teman.-temannya yang konon ada juga orang-orang ekspat alias "Bule".*Kesal... kok bisa-bisanya menuduh seperti itu ya? Kok bisa-bisanya menulis kategori wajah orang dengan klasifikasi pembantu? *Tidak bisa aku acuh begitu saja... karena ini sudah kasus pelecehan, diskriminasi... jadi kuanggap jalan keluarnya dengan argumentasi. Aku registrasi di Kompasiana, baru kasih komentar kecil ... tapi sayang lenyap sudah artikel itu ...Begitulah cerita kecil jalan-jalanku. Cukup seru... sampai sekarang cuma geleng-geleng kepalaku masih saja ... kalau ingat tulisan dan komentar-komentar penulis, kok bisa-bisanya bilang dia tulis kisah itu karena dia cinta Indonesia, weleh...weleh ... apa hubungannya ya? Jangan-jangan register di forum ekspat saja sudah bisa dibilang tidak cinta tanah air ...Salam dari Hamburg dan semangat tuk teman-teman yang hidup dalam ikatan bikultur!Dyah
gilbert de jong
hai dyah,trims kamu udah repot2 membagi ceritanya ya.saya cuman ngak mengerti kenapa orang2 indonesia sangat peduli sama fikiran orang lain, walaupun sama orang yang tidak kenal?menerut saya, jangan buang waktu mencoba rubah fikiran jelek dari orang yang jelek.peduli dengen keluarga dan teman2 yang dekat udah bisa susah, ngak.maaf kalau tulisanku dikit aneh karna saya pake kata2 yang kurang cocok, mudah2-an kamu mengerti maksudku. saya belum lancar dong.. pake bakasa Indonesia, baru dikit pinter aja, hahaha.oce, sampai jumpa.....gilbert.
Dyah
Halo Gilbert,mungkin kalau pikiran orang itu tidak ditulis sebagai artikel, atau penulisnya bukan orang publik... tentunya tidak usah peduli. Orang bilang EGP -Emangnya Gue Pikirin- Tapi kalau ada hal-hal yang bersifat SARA yang dipublikasikan untuk umum ... aduh, aku jadi ikut memikirkan... paling tidak ikut berdebat... supaya orang sensitif dengan tema-tema ini :-) Bahasa Indonesia kamu oke sekali ... ;-)Salam dari Hamburg yang dingin,Dyah
calitobali
hai dyah,saya cuman ngak mengerti kenapa orang2 indonesia sangat peduli sama fikiran orang lain, walaupun sama orang yang tidak kenal?[/QUOTE]Ini yang aku tanya diriku terus. Aku selalu bilang sm orang2 disini (biasanya cewek), kalau ada orang yang nggak ada apapun untuk lakuin selain jelekin kamu, berarti kamu penting. Kalu kamu nggak penting, nggak mungkin kamu diomongin. Aku masih mencoba mengerti budaya lokal, dan yang sudah jelas, disini ada lebih banyak rasa malu daripada negara2 barat. Sebenarnya, kalau aku di negaraku sendiri, aku pemberani, tapi di Indonesia aku bisa jadi agak malu di situasi yang nggak pernah maluin aku dulu di Amerika. Mungkin aku sudah mengerti budayanya lebih dari yang aku sadar. Setiap hari disini ada sesuatu yang baru yang aku bisa belejar...makanya aku nggak pernah bete disini.Dan maaf, aku juga kayak Gilbert, tulisanku pasti kurang sempurna karena aku masih belum lancar Bahasa Indonesia, tapi aku senang kalau ada orang di forum yang pengen ngobrol pakai Bahasa Indonesia sama aku, meskipun kurang sempurna.Terima kasih.